Kamis, 10 Desember 2009

Mengobati Sakit Hati



1. Kategori Hati

Mengapa kita terjebak rayuan musuh Islam sehingga menjerumus ke lembah hina? Karena ada sesuatu dalam hati kita. Agar tidak terjebak lagi, perbaiki hati kita.

Islam membagi hati menjadi 3 bagian yaitu : Pertama, hati bersih adalah hati yang senantiasa mengingat Allah. Ketika mendengar ayat-ayat Allah bergetar dan semakin bertambah keimanannya. Hati yang bersih menempatkan cintanya hanya kepada Allah swt. Hati yang bersih akan kikir terhadap waktu, ia akan merasa bersalah dan bersedih jika suatu waktu dirinya lupa atau lalai tidak memanfaatkan waktu semaksimal mungkin.

Kedua, hati yang mati. Yaitu hati yang keras laksana batu granit, jauh dari hidayah dan sulit menerima kebenaran. Ia egois, tidak mau menerima kritikan dari orang lain. Emosional, jika pendapatnya ada yang membantah. Picik, merasa diri paling benar. Allah swt menggambarkan dalam Al-Qur’an (Surat AL-Baqarah : 18) : ”Mereka tuli, bisu, buta, maka tidaklah mereka kembali ke jalan benar”

Ketiga, hati yang sakit. Ialah hati yang sennatiasa gundah gulana, ragu dan tidak pernah merasakan nikmatnya iman Islam. Orang yang hatinya sakit, memandang dosa besar seperti debu yang berterbangan, kecil dan tanpa beban. Orang yang sakit hatinya jika mendapatkan suatu permasalahan akan mencari pemecahan selain kitab Allah swt. Ia memutuskan sesuai keinginan pemimpinnya yang dzolim. Mereka yang termasuk kelompok kaum muslim yang di tengah era globalisasi. Kehidupan yang telah daracuni sekularisme, hedoisme, palagisme, yahudiisme bahkan komunisme.

2. Sumber Penyakit Hati

Berdasarkan keterangan baik dari Al-Qur’an dan As-Sunah, sumber penyakit hati adalah : Pertama, lemahnya akhlak. Ia sering meremehkan dosa kecil sehingga lambat laun tidak menyesal lagi melakukan dosa tersebut. Dalam perkembangan berikutnya tidak merasa dosa lagi ketika melakukan dosa besar.

Kedua, tidak adanya kehati-hatian (ihtiyat). Maksudnya selalu memandang remeh barang subhat. Padahal barang subhat lebih dekat ke haram (HR Bukhori). Ketiga, terlena dengan kehidupan dunia. Dunia fana namun begitu banyak orang yang merasa akan hidup selamanya. Sehingga apa yang ia perhitungkan dari untung dan rugi berdasarkan ukuran keduniaan, bukan keuntungan atau kerugian untuk akhirat kelak.

Keempat, takut sengsara. Ketakutan pada satu ini sangat dominan dan Islamp pun memahaminya. Namun ketakutan yang berlebihan bisa menjerumuskan orang pada kehidupan yang menghalalkan segala cara. Kelima, kepekaan yang berlebihan (perasa). Seseorang yang terlalu perasa akan mudah tersinggung dan marah serta akan mudah berburuk sangka.

3. Keenam, menyia-nyiakan waktu. Seseorang yang menyia-nyiakan waktu berarti telah mengorbankan berbagai kepentingan untuk bekal di akhirat nanti. Ibnu Umar meriwayatkan dalam riwayat Bukhari ”Jika engkau berada di waktu sore (untuk berbuat kebaikan), maka jangan menunggu pagi. Begitu juga jika engkau berada di waktu pagi (untuk melakukan kebaikan) maka jangan menunggu waktu sore (ker jakan saat itu juga).

Mengobati Sakit Hati kembali lagi ke dunia, begitu pula hati yang telah mati akan mustahil dihidupkan kecuali dengan seizin Allah swt. Adapun hati yang sakit akan mudah disembuhkan jika ia berusaha mencari obatnya. Adapun cara mengobati hati yang sakit adalah :

* Qiyamul lail (shalat malam), adalah di antara amalan sunat yang tidak pernah ditinggalkan oelh Rasulullah. Qiyamul lail, merupakan bukti penghambaan murni seorang makhluk kepada khaliknya. Saat malam sepi, hanya dia dan kehadiran Allah swt. Allah swt pun menjanjikan jalan keluar yang mudah dalam segala urusan jika rajin mendirikan Qiyamul lail.

* Membaca AL-Qur’an, seseorang yang rajin membaca AL-Qur’an akan mendapatkan banyak hikmah, diantaranya ketentraman jiwa disamping pahala yang besar. AL-Qur’an juga merupakan syaifun atau obat bagi segala penyakit hati.

* Dzikrullah atau selalu ingat Allah swt, dan dikatakan dalam sebuah hadist seseorang tidak akan mencuri saat ingat Allah. AL-Qur’an sendiri juga menjelaskan bahwa syeitan tidak akan menggoda pada hamba yang mukhlis (bersih, damai). Dzikir bisa dilakukan dengan lisan yaitu senantiasa melafalakan kalimah toyibah atau kata-kata yang baik. Sedangkan dzikir dengan perbuatan misalnya selalu terdorong untuk menolong orang lain.

* Memperbanyak amalan sunah, semakin banyak amalan sunah yang dilakukan berarti memberikan nilai tambah. Pahala amalan sunah, juga dapat menimbangi dosa-dosa kita.

* Sabar, bukanlah bertopang dagu dengan menyerahkan segalanya pada nasib. Sabar adalah berjuang, bekerja keras tanpa henti dan tanpa putus asa sambil tetap bertawakal kepada Allah swt.

”Sesungguhnya bahagia orang yang selalu mensucikan jiwanya dan celakalah orang yang selalu mengotori jiwanya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar